ydstrprmn: Band Idola
Headlines News :

Label 1

Label 2

Label 5

Uncategorized
Powered by Blogger.

Latest Post

Showing posts with label Band Idola. Show all posts
Showing posts with label Band Idola. Show all posts

Under The Big Bright Yellow Sun - Robotics

Written By Yudhistira Pramana on Dec 28, 2011 | 3:15 AM

Rasa, adalah segalanya. Begitulah suatu pendapat mengatakan, rasa adalah tujuan dan rasa adalah final destination. Manusia memiliki rasa dan hidup adalah tentang rasa. Takut, cemas, sedih, ragu, galau, kecewa, bimbang, senang, bahagia, tenang, tentram adalah rasa yang manusia miliki di setiap hal yang terjadi dalam kehidupan. Rasa adalah emosi jiwa dan rasa adalah ruh manusia.

Under The Big Bright Yellow Sun adalah band asal Bandung. Sebagai band post-rock instrumental UTBBYS mencoba untuk mendeskripsikan serta melukiskan setiap rasa dalam hidup  yang dirasakan setiap jiwa manusia, lalu mengaktualisasikannya melalui rangkaian nada yang harmonis dan di terjemahkan melalui suatu karya seni, yaitu seni lukis.

Berdasarkan konsep inilah maka dalam full-length album pertama ini, UTBBYS mencoba berkolaborasi dengan beberapa pelukis / ilustrator dengan latar belakang, pengalaman serta gaya yang berbeda, mencoba menerjemahkan dan menguraikan setiap rasa dan emosi yang UTTBYS tangkap dan lukiskan melalui untaian nada yang harmonis dan selaras. Sehingga setiap rasa dan emosi itu, dapat diterjemahkan, terdengar, terlihat, terasa dan teraba.

Mufti Priyanka atau akrab disapa Amenk (@amenkcoy), merupakan salah satu seniman / ilustrator yang berkolaborasi dengan UTBBYS dalam album Painting Of Life ini. Karya seninya yang dikenal satir dengan gaya yang blak-blakan, menyentil, menyindir, mengolok-olok, konyol, nakal dan berbau seks menjadi ciri tersendiri dari Amenk. “Robotics” yang menjadi single pertama dari album Painting of Life ini digarap oleh Amenk dengan medium tinta cina diatas kertas.

Single “Robotics” sendiri bercerita tentang sebuah sistem, betapa manusia kadang tidak berdaya melawan suatu sistem sehingga mereka terus mengikutinya seperti layaknya sebuah Robot.

Fleet Foxes - Kesederhanaan dan harmonisasi alam semesta.

Written By Yudhistira Pramana on Nov 1, 2011 | 12:38 PM

Fleet Foxes

Seattle dan kawanan seattle sound nya yang melegenda di era 90an, sebut saja nirvana dan pearljam, rasanya sangat menyesal karena tidak mengikuti musik mereka dari dulu, (saya masih mendengar Godbless, Gong 2000, dan Dream Theater sampai 2004, Tarakan emang keras kepala seperti batu), tapi paling tidak, saya mendengarkannya sekarang, tidak ada kata terlambat bukan. Kota terbesar di wilayah Timur laut pasifik Amerika dan terletak di negara bagian washington antara puget sound dan danau washington. Tenang aja, saya tidak akan membahas grunge dan kota ini. Ini tentang Fleet Foxes, Robin Pecknold, kesederhanaan, dan kejatuhcintaan saya akan karya mereka.

Menurut wikipedia, Fleet foxes baru aktif sekitar tahun 2006, dan bertepatan dengan rilis EP pertama mereka (self titled) dalam format CD-R dan dirilis sendiri oleh Fleet foxes dibantu oleh teman keluarga Robin Pecknold, Phil Ek sebagai produser. Mungkin lebih tepatnya EP pertama mereka sebagai demo untuk menawarkan diri ke label rekaman. Lalu di 2008 EP kedua Sun Giant dirilis, kali ini dirilis oleh Bella Union dan Sub Pop. Kedua label ini mungkin bisa saja sangat berjasa bagi Fleet Foxes. Eksistensi dari kedua label tadi sudah sangat diakui, Bella Union yang juga merilis Cocteau Twins dan Eksplosions in the sky, kemudian, Sub Pop dengan rilisan berbahaya dari list band yang juga berbahaya, Nirvana, Soundgarden, Foals, The Postal Service, Sonic youth, ya ampun banyak deh ini. Kemudian di 2008 Full yang (lagi) diberi judul nama mereka sendiri dirilis dengan format CD dan Vinyl, Selang 3 tahun, mereka merilis Helplessness Blues. Cukup tentang bahasan discography.

Semua serba kebetulan, gak sengaja baca Rolling Stone Indonesia, saya menemukan review album Fleet Foxes dengan rating sempurna, ya, saya tidak pernah sepenasaran ini awalnya, tp ini review dengan rating 5 bintang, apa-apaan ini. Malamnya pun saya langsung bergegas kewarnet, ya saya download, tentunya saya tidak mau rugi ketika harus membeli cd padahal musiknya tidak saya suka. Maka saya memutuskan untuk mendownloadnya. Begitu pertama kali mendengarnya, musik mereka belum begitu masuk difikiran, dua sampai tiga track rasanya masih belum ada ikatan antara penggiat dan pendengar. Akhirnya saya simpan, di folder MUSIK JAHAT bagian Manca. Beberapa hari setelah itu, pacar saya berulang kali memutar track White Winter Hymnal terus menerus, dari sini mulai ada gaya tarik menarik, pacar saya emang beberapa kali melakukan hal seperti ini kepada saya tanpa saya sadari, dan saya pikir, musik berkelas adalah musik yang "tidak" gampang dicerna, kamu harus membuang sedikit waktumu, memberikan pengorbanan telinga, fikiran, dan rasa untuk bisa terlibat langsung dalam sebuah karya, tapi ya terserah, semua bebas dan punya cara sendiri untuk menikmatinya. Entah saya sedang berada dimana, Seketika hanyut dalam mahakarya mereka, seketika saya berada di antara lembah dan pegunungan dengan suhu dingin dengan kopi hitam pekat yang sangat panas yang juga merupakan penolongmu dari rasa dingin, dan seketika lagi saya berada di perkebunan gandum bersama para pekerja dan domba peliharaan dengan bulu yang sangat indah. Semua tentang romantisme semesta yang bisa didapat ketika dialog dan intonasi Robin Pecknold bernyanyi. Penuh kedamaian, kenyamanan, dan kenyataan. Inilah tokoh intelektual dibalik proses kreatif Fleet foxes. Sosok yang suka menyendiri ini adalah sosok yang rendah hati dan demokratis, Hampir menulis seluruh lagu Fleet Foxes dan tidak pernah keberatan jika lagunya dirubah arahnya oleh personil lainnya sampai lagunya bener - bener berubah dari versi yang pertama kali dia tulis. Saya fikir inilah sebuah band yang utuh, seperti Radiohead yang setiap albumnya tidak pernah sama konsep bermusiknya, personil bebas bebuat apa saja selama kalian terlibat dalam sebuah proses kreatif bersama-sama, teruslah berkompromi karna proses kreatif melahirkan sebuah mahakarya dengan orang-orang yang tulus berkesenian. Robin pecknold memiliki sahabat yang sangat pemalu juga di waktu SMA, Skyler Skjelset. Mereka berdua akhirnya yang membentuk Fleet foxes, sosok yang sama-sama pemalu namun memiliki keinginan dan semangat untuk bermusik. Robin Pecknold merupakan vokalis dengan tampilan religius, brewok, kemeja flannel dan senjata gitar akustik, tentunya bersuara cemerlang. Ketika saya mendengarnya detail menggunakan headphone yang lumayan mahal, saya merasakan ini luar biasa, emosi seperti ingus yang naik turun, saya sangat salut ketika seorang musisi dan karyanya bisa memainkan dua emosi yang berbeda dalam setiap karya, terutama dalam sebuah lagu yang maksimal berdurasi sekitar 5 sampai 7 menit. Ini penuh semangat, dan penuh dengan kebahagiaan. Saya bahagia ya benar-benar bahagia mendengar sebuah mahakarya.

Cover full album mereka "Fleet Foxes" merupakan replika lukisan dari Pieter Bruegel the Elder yang berjudul "The Blue Cloak", dan lukisan ini dibuat di tahun 1559. Irama folk dan komponen tradisional amerika, terkadang unsur psydhelic juga ikut menghiasi track demi tracknya. Fleet foxes membawa saya pada keharmonisan semesta dengan puisi indah nan puitis, Menikmati api unggun dengan orang tersayang, mempersilahkan menikmati sajian teh hangat beraroma melati, menikmati senyum tulus dari orang yang lewat dan menyapamu dengan mesra, tentang pegunungan, hangatnya sinar matahari, dan hutan hujan dengan kelembapannya yang terjaga. Mereka memainkan peranan
dengan baik sebagai pencipta suasana yang harmonis. Olah vokal dalam mini choir yang mereka bangun sejak awal semakin melengkapi kisah petualangan saya bersama alam semesta. Lagi-lagi Robin Pecknold menjadi barisan paling didepan dalam menciptakan situasi ini, dengan reverb tipis yang terus mengikuti setiap akhiran kata-katanyanya. dan arensmen sederhana, saya yakin tidak ada yang terlalu menonjol disini, dari segi musikalitas mereka menjalankan peran sesuai dengan porsinya masing-masing, Fleet Foxes hanya butuh ke ikhlasan dan ketulusan untuk membuat mahakarya seperti ini, dan saya ikut merasakan apa yang mereka ihklaskan. Dan satu keyakinan yang saya dapatkan sejak pertama kali mendengarkan Fleet Foxes adalah Semua yang berasal dari kejujuran rasanya akan selalu dirindukan, seperti saya selalu merindukan mahakarya mereka tiap detiknya.


Fleet Foxes | Web | Facebook | Twitter

URBAN VINTAGE is Getrunbavian.

Written By Yudhistira Pramana on Oct 27, 2011 | 6:26 PM

URBAN VINTAGE

Sebut saja mereka band dengan personil aneh. ERU MULYA PRATAMA (Vocal & gitar), manusia paling depan dengan senjata gitar dengan lafal british cukup kental, disibukkan dengan kisah kasmaran dan menjadi salah satu anggota alat tiup dalam kelompok marching band, HILARIUS RIA EFNU NIRWANA (Gitar), remaja sempoyongan, lusuh, nomaden, yang masih berkutat dengan kualitas hidup, masih dengan penyakit klasik mabuk darat, dan silahkan tanyakan dia tentang musik 90an, dia fasih akan hal itu, lalu ada TWENTY ADE DWI CONDRO (Bass), karyawan bank yang harus mengejar target supaya dapat sebuah prestasi yang baru-baru ini katanya baru dapeat promosi, Lalu BENY MARTANTO a.k.a Bendot (Drum) drummer ceking berperawakan mirip Johny Greenwood, saya mengidolakan gaya bermain drum makhluk satu ini. Ngomong saja kadang tidak jelas, tiba - tiba tertawa sendiri, absurd. Mereka juga termasuk teman nongkrong saya, Eru pernah jadi teman ngeband waktu pertama kali kejogja, dan efnu udah kenal sejak zaman MIRC. Ya, mereka memang idola, tepatnya band mereka yang idola.

Jossie was here adalah lagu pertama yg saya denger, waktu itu efnu mengirimkannya via yahoo messengger. Awalnya masih biasa saja mendengarnya, Saya percaya bahwa musik yang bagus itu, adalah musik yg bisa membuat bulu kuduk saya berdiri, bahasa kerennya merinding. Kemudian beberapa lama, Track Sorry, nah ini dia awal kecintaan saya pada karya mereka, Jika mereka tetap konsisten, saya yakin mereka bisa lebih membuat karya yg lebih hebat lagi dari Sorry. Aroma psychdelic mulai kerasa di album ini, entah saya mulai tau psychdelic sejak kapan, tapi saya rasa ini tepat, saya bisa menikmati ini sebagai sesuatu yang sangat wajar, Dengarkan pada bagian Reff nya, Backing vocalnya terasa begitu manis, sangat manis, nadanya tepat dan juga pas. Sorry adalah track favorit saya bukan berarti track yang lain tidak saya perhatikan, justru setelah era sorry, mereka semakin mengeksplor refrensi mereka lebih luas. Sebut saja God day Freedom, Inilah fase dari Urban vintage yang masih muda menjadi fase yang lebih dewasa, dengan kesibukan yang mereka punya tiap personil, bukan berarti karya harus muncul begitu saja tanpa di olah lagi. Mereka rajin, sampai pada saat titik karya mereka harus benar2 mencapai satu kata sepakat. Kembali lagi saya tidak akan menyama2kan musik mereka seperti siapa, karna semua unsur sangat berpengaruh dalam berkarya. Skill musikalitas mereka terbatas, tapi daya imajinasi mereka tak terbatas, kadang saya iri pada karya2 mereka yang luar biasa ini. Good day freedom yang diawali dengan solo gitar dinada minor, Ini lagu yang datar, tapi tak sedatar rasanya, Nada chord yang minim, harmonisasi yang begitu rapi, unsur psychdelic yang kental sekali, Jikalau saya dilahirkan dan punya keajaiban cepat paham dengan musik yang pada ngehip pada zaman itu, mungkin dari dulu saya sudah mau mencerna pink floyd, the doors, modest mouse, dan kawanan2nya. Namun apa daya bapak saya hanya penggemar godbless dan iwan fals. Dan itu mempengaruhi selera saya.

Lalu menyimak Getrunbavian, ini anagram dimana judul ini diambil dari nama urban vintage sendiri. Intro drum yang sangat bersemangat, saya yakin duet pembentuk ritmis bendot dan condro tidak bisa diremehkan disini, mereka melengkapi satu sama lain, kemudian efnu yang menjaga dibagian rythm section kadang bermain nakal, dan Eru paham dengan keterbatasan ini. Lagi - lagi ditengah lagu ada permainan emosi. Great. Bener khan daya imajinasi mereka tidak terbatas. Nah Today is for tomorrow adalah track yang paling favorit dari semua, maaf untuk Sorry, kamu menjadi nomor dua setelah track ini. today is for tomorrow merupakan titik klimaks untuk Urban Vintage, Ini karya yang fenomenal, Jika Nirvana ada smile like teen spirit, mungkin Urban Vintage harus bangga mereka punya track seperti today is for tomorrow. Cukuplah saya menjabarkan karya mereka seperti apa sebelumnya. Ini komposisi dimana ada ketidak percayaan jika dipandang dari segi musikalitas mereka, Saya pun pernah beberapa kali ikut mereka untuk latihan distudio, dan sampai sekarang saya belum menemukan titik kenyamanan ketika jamming dengan mereka. Apa mungkin daya imajinasi saya terbatas, mungkin saja benar.

Saya mungkin adalah orang pertama yang akan membeli rilisan mereka, Jika saya punya duit banyak, kalian tidak akan susah lagi buat rilis album yang lumayan ketunda lama karna sang operator sibuk trip top 40an. Tetap akan saya tunggu ini, dan berdoa buat Urban vintage dan teman2, semoga niat kalian merilis album tidak berhenti. Saya salute, dan saya setia menunggu panggungan kalian. Hormat Grak Urban Vintage.

Silahkan Mendengarkan lagu mereka disini

Urban Vintage | Facebook | Myspace

ZOO - saya siap untuk terpukau (lagi).


Inilah alasan saya kenapa saya sangat cinta dengan Kota ini, Jogja memang sangat istimewa, Kota ini ibarat pencetak seniman nomor wahid di Indonesia. Segala potensi berjalan beriringan dengan kesederhanaan. Sebut saja Zoo, band progresif eksperimental (apalah itu, saya kurang paham bagaimana cara melabelkan genre pada satu band), saya tidak akan menyama2kan mereka pada satu grup tertentu, yg jelas, semua saling terefrensi, dan saling berpengaruh, saya rasa ini lebih bijak karna ini merupakan sebuah karya dimana semua unsur bisa tercampur dan disatukan. Zoo terbentuk 2005 dengan format biasa, masih ada gitar disana, namun akhirnya, mereka membuang gitar dan nyaman dengan formasi vokal, bass, dan dua drum bermain bergantian di tiap lagu.

Apa yg difikirkan mereka, apa yg memotivasi mereka sampai karya mereka sangat dahsyat. Range vokal Rully Shabara Herman yg bs menjelma menjadi apa saja, wajar jika Zoo (kebun binatang) itu ada didalam pita suaranya, caranya bernyanyi tradisional yg seakan2 kita merasakan berada di kampung yang tak tersentuh zaman modern. Sangat Primitif. Belum lagi Bhakti Prasetyo dengan seperangkat alat perang (efek) yg tumpah ruah, liar ketika perform seakan kerasukan, Ramberto Agozalie dengan pattern yg tidak wajar, matematis, silahkan hitung sendiri, dr smp saya sangat menggilai musik progresif rock seperti dream theater, jd wajar jika obet saya idolakan, apalagi dengan cranial incisorednya. Kemudian Dimas Budi Satya, ini lebih bengal lg baik diluar ataupun dipanggung, badan penuh tato cukuplah mengidientitaskan dia seperti apa.

Ketika kamu membayangkan sebuah musik dengan ritmis yg datar, kamu seolah - olah terbawa mengikuti alur yang diciptakan, berbeda buat zoo, seluruh otot saraf kaku, kalian siap berhitung sana/i, sebuah ritmis matematis, dengan distorsi bass berdiri sendiri, dan tentunya vokal rully yang "kampungan" banget, Maksud kampungan adalah bener2 seperti ada dipedalaman kampung sana, natural, terkadang rully juga bermain djembe di tiap performnya. Lirik-Lirik tentang peradaban manusia, efek modernitas, melupakan kebudayaan, optimisme banyak terkandung didalam lirik mereka, apalagi jika bersatu dengan musik olahan zoo. Saya sangat suka mereka, baik dari audio maupun secara live perform.

ZOO - Trilogi Peradaban | Kemasan Kolektor

EP mereka Kebun Binatang pun saya download di yesnowave, semakin didengarkan, maka semakin penasaran juga saya, ayolah buat lagi karyanya dan rekam, buatlah album atau apalah itu, dari situ doa pun terkabul, tak lama EP kebun binatang, muncul lg rilisan mereka, Trilogi Peradaban yg gilanya dirilis gratis via yesnowave.com, saya masih belum puas karna rilisan ini harusnya ada kemasan fisiknya, doa pun terjawab (lagi), zoo ternyata merilis trilogi peradaban kemasan kolektor, ini rilisan yg paling mahal yg pernah saya punya. Trilogi peradaban terbagi menjadi 3 babak yaitu, babak satu Neolithikum, babak dua Mesolithikum, babak tiga : Paleolithikum, dan masing2 babak dimainkan dengan drummer yg berbeda. Alasannya mungkin setiap babak punya ciri khas pada zamannya, ada penemuan2 baru dan itu yang membedakan tiap zamannya. Artwork yang menawan dengan unsur primitif kental, dan artwork pun dikerjakan oleh rully sendiri, sempurna.

Karya mereka yang baru ada di kompilasi Jogja Istimewa, Namun ada sedikit pergantian formasi disini, Bhakti kali ini tidak terlibat, entah kenapa, saya juga tidak ingin tahu. Tp yang jelas di lagu Bambu Runcing Zoo berkolaborasi dengan Wukir, seorang seniman dengan instrumen hasil ciptaannya sendiri, yang biasa disebut Bambu Wukir, Nah yang ini juga berbahaya. Video kolaborasi mereka bisa di lihat disini. Rully Shabara dan Wukir Suryadi pun terlibat langsung dalam Senyawa, yaitu proyek etnis kontemporer antara dua seniman berbeda latar belakang, Rully lebih cenderung ke eksperimental rock, dan Wukir lebih mengarah ke tradisional. Kolaborasi ini sudah menghasilkan Rilisan yang di beri nama Senyawa, yang bisa didownload disini. Sukses terus Zoo, saya rindu melihat perform kalian lagi dan seterusnya. Kalian istimewa dan berada di kota Istimewa juga.
 

ZOO | myspace 
lihatkebunbinatangku@yahoo.com
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ydstrprmn - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger